Senin, 25 Oktober 2021

Sejarah Desa Tifu

 SEJARAH   DESA  TIFU  DAN  PEMERINTAHANNYA


Desa  Tifu  merupakan  salah  satu  Desa  Adat  tertua  di  Kecamatan  Leksula  Kabupaten  Buru  Selatan, Desa  Tifu  disebut  Desa   Adat  karena  didirikan  berdasarkan  ikatan  sumpah  dan  janji  para  leluhur. Desa kecil ini  berada di pesisir pantai  selatan  pulau  Buru dan  letaknya  dalam  sebuah  teluk  yang  tenang,  dengan  panorama  alamnya  yang  indah  sehingga  berpotensi  untuk  dijadikan  objek  Wisata  Alam. Asal  mula  berdirinya  Desa Tifu  adalah  dari  empat  orang   kakak  beradik   Suku  Waekabo  atau  dalam  bahasa Daerah   Buru  disebut  WAEKABO  TAMAR  PA  yaitu  Humnawan, Humite, Humboti  dan  Denpun,  itulah  empat  mata  rumah  Marga  Behuku,  keempat  mata  rumah  ini  adalah  pancaran  dari  keturunan  Soleman Ternate. Ke empat   orang   kakak   beradik   ini   ketika   meninggalkan   tempat   asal   mereka  ( Kepala  air  waekabo) dilepaskan  oleh  Ibu  mereka  Ina  Barakate  hanya  dengan  berbekal  tombak  parang  dan  wasiat,  Ina  Barakate  dengan  ikhlas  melepaskan  keempat   anaknya  dengan  harapan  agar  mereka  dapat  menentukan  tujuan      hidup  masing - masing  dan  meneruskan  keturunannya.

Berhari  hari  keempat  kakak  beradik  ini  berjalan  sambil  berburu , dengan  arah  tujuan  yang  tidak  jelas hingga tibalah  mereka di sebuah gunung  (Gunung  Karemat) yang letaknya  diatas teluk  Kayeli (Buru  utara  Timur), di gunung  itu  meraka tinggal  bersama  beberapa  suku  asli  lainnya,  diantaranya  Suku  Wael,  Suku Besan,  Suku  Baman, Suku  Waelua, Latubual  dan  lain  lain. Ketika  mereka  tinggal  beberapa  lama  disitu  terjadilah  perebutan  kekuasaan  diantara  mereka, masing  masing  Kepala   suku  mempertahankan  kehebatan  dan  jati  dirinya  sebagai  kapitan, sehingga  sering  terjadi  pertengkaran  pertengkan  kecil  yang  disebabkan  karena  ingin  berkuasa. Akhirnya mereka  berunding  dan  membuat  kesepakatan  bersama,  kira kira  siapakah diantara  para  kepala  suku  ini  yang  berhak  untuk  memimpin  dan  menguasai   daerah  itu, setelah  selesai  berunding  merekapun  sepakat  seperti  membuat  sebuah  Sayembara  untuk  menguji  ilmu  dan  kesaktian  dari  kepala  suku  masing masing,  syaratnya  adalah  jika  Kepala  Suku  mana  di  antara  mereka  yang  mampu  melemparkan  tombaknya  dari atas puncak  gunung  karemat  itu  sampai  ke  teluk  kayeli,  maka   suku  dialah  yang  berhak  menguasai  semua  suku  dan  Wilayah  itu. Pada  saat  waktu  yang  telah  ditetukan  uji  kesaktianpun  dilaksanakan , ternyata  dalam  uji  kesaktian  itu  suku  waekabo  dan  beberapa  suku  lainya  tidak  berhasil  melempar  tombaknya  sampai  ke  teluk  kayeli,  dan  disinilah  terjadi   perang  antar suku,  sehingga  salah  seorang  kapitan  dari  suku  Waekabo  gugur  dalam  pertempuran  itu  namun  ia  tidak  sampai  meninggal  ( Karena Ia berpura - pura  mati )  lalu  kapitan  Waekabo  ditutup  dengan  daun  kelapa  oleh  Kapitan  lainya.  Karena  merasa  mereka  kalah  dalam  uji  kesaktian,  akhirnya  Suku  Waekabo  ini  berpindah  tempat  lagi  ke  arah  barat  lalu  mereka  menetap  disebuah tempat, namun  tempat  itu  sampai   saat  ini  tidak  disebut  namanya,  karena  tempat  itu  dirasakan  tidak  nyaman  untuk  mereka,  akhirnya  merekapun  bepindah  tempat  lagi. Beberapa  hari  mereka  meneruskan perjalanan  hingga  tibalah  mereka  disebuah  bukit   kecil , Bukit  kecil  itu  letaknya kurang  lebih  4 Km  arah  utara  Desa  Tifu  , karena  kacapean  lantaran  berhari - hari  berjalan  sehingga  merekapun  sepakat untuk  beristirahat, mereka membuat pondok dari daun - daun  dan  beristirahat  untuk  beberapa  hari  di situ, mungkin  karena  di tempat  itu  banyak  binatang  buruan  seperti   babi ,  rusa  dan  lain  lain sehingga  merekapun  betah  untuk  tinggal  ditempat  itu. Dan  menurut  ceritera,  ketika  para  leluhur  ini  tinggal  disitu mereka  juga  mempunyai  seorang  saudara  perempuan yang  sungguh  cantik  ia  sering  datang  mengunjungi  mereka,  namun  biasanya  ia  datang   pada  malam  hari. Pada suatu  waktu, ketika  angin bertiup  kencang  di  atas  bukit  kecil  itu  sehingga  pohon  pohon  berayun         ayun  dengan   kerasnya, dari  celah  celah  pepohonan  itu  salah  seorang  dari  mereka  menangkap  suatu  pemandangan  indah di  arah  matahari  terbenam, di  situ  Ia  melihat  ada  satu kolam  dengan  airnya  yang cukup  luas  menurut  pengamatannya  lalu  Ia  menunjukan  kepada  saudaranya  yang  lain  sambil  berkata  dalam  bahasa  daerah  Buru ” Touk  nang  Tifun  sa pao, ”yang  artinya  lihat   kolam  saya  di  bawah,  dan  sejak  saat  itu  mereka  menamai  bukit  yang  mereka  tempati  itu  touk Tifun.

Lalu  merekapun  berinisiatif  untuk   turun  melihatnya  lebih  dekat , dan  mereka  sepakat  untuk  turun  bersama sama  yang  dipimpin  oleh  Humnawan  sebagai  perintis  jalan  sekaligus  orang  pertama  yang  melihat  kolam  itu, ketika  mereka  sampai   di  tempat  itu  mereka  sungguh   terkejut   karena  ternyata  apa  yang  dilihat  dari  bukit  itu bukannya  sebuah  kolam  malainkan  sebuah  teluk  yang  tenang  dengan  pintu  masuknya  yang  indah  namun  disekitar  daerah  itu  tidak  terdapat  sumber  air  tawar  yang  bisa  diminum. Disinilah  sebuah keajaiban  terjadi, karena  tidak  ada  Air  tawar  untuk  diminum  akhirnya  Humnawan  sebagai  perintis  jalan  memohon  kepada  sang  pencipta  untuk  mendapatkan  air,   Beliaupun  menikam  tongkatnya  ditanah  lalu  duduk  di  atas  sebuah  batu  sambil  bermohon,  dan  ketika  selesai  memohon  Beliau  mencabut  tongkatnya  dan  muncul  lah  sebuah  mata  Air  sebesar  jari   tangan, lalu  mata  air  itu  diberkati  oleh  Humite  dan  merekapun  meminum  air  itu. Humite  berjanji  di mata  air  itu  bahwa  Ia  akan  selalu  menjaganya,  hingga  sampai  hari  ini  sumber  air  itu  masih  tetap  hidup  dan  dipergunakan  untuk  kebutuhan  sehari  hari   masyarakat. Mereka  inilah  orang-orang  pertama yang  menginjakkan  kaki  di  teluk  Tifu  dan  menguasai  daerah  itu  kira  kira  pada  tahun  1786   mereka   sungguh  tertarik  dengan  suasana   alamnya, namun  mereka  belum  membuat  rumah  untuk tempat  tinggal, dari  waekabo  bersaudara  ini  nama  yang  lebih  dikenal adalah  Kapitan  BAIKOLE. Waekabo  bersaudara  itu berpancar lagi, tetapi  dengan satu perjanjian  bahwa  mereka  akan  kembali  ke  tempat  itu  untuk  menetap. 

Berpuluh puluh  tahun  mereka  berpisah, dan Kira  kira   pada Tahun  1810an  keturunan merekapun  mulai  berdatangan  satu  demi  satu  dengan  keluarga  masing  masing  untuk  tinggal  disitu, namun  tempat  itu  belum  berbentuk  seperti  layaknya  sebuah  pemukiman  penduduk  karena  masih  ditutupi  oleh  pohon  pohon  kayu   besar   dan  terkesan  seperti   rimbah. Kira  kira  pada tahun 1814  merekapun  menempati  tempat  itu, karena  dilihat   bahwa   daerah   tifu  ini  masih  luas  dan  hanya  didiami  oleh  beberapa  keluarga,  akhirnya Waekabo  bersaudara  ini  memanggil  marga  marga  lain  dari   Pegunungan  untuk  turun  ke  pantai  dan  tinggal  bersama  sama  dengan  mereka, yang  antara  lain, Bangsa Maktita dan  Mual  , mereka  juga  diberikan  hak  tanah  untuk  membuat  rumah  dan  berkebun  sehingga  telah   terjadi  kawin  mawin  di  antara   mereka. Berdasarkan  ikatan  kekerabatan  Ina , Ama,  Kai  Wait  ( hidup  orang Keluarga )  ada  seorang  leluhur  bernama KUBENA  yang  bermarga  Solissa, Dialah  orang  pertama  yang  mulai  merambah  hutan  didaerah  itu  untuk  dijadikan  pemukiman.

Pada  Tahun  1816  Negeri  Tifu  secara  resmi  mulai  diakui ,  Kata  Tifu  berasal  dari  kata  Touk  Tifun  ( Bukit  kecil  yang  mereka  diami  sebelum  mereka  temukan  teluk  Tifu ). Orang  pertama  yang  menjadi   pimpinan  pada  saat  itu  ialah  HENOLON  DAHYANGEN, ( Humnawan ) Pada  saat kepemimpinan Henolon Dahyangen penduduk di  Negeri  Tifu  belum  mengenal  agama, mereka  masih   memegang  adat  istiadat  dan  janji   leluhurnya   sebagai   pegangan   hidup. Kira  kira  pada  tahun  1830an  Kepemimpinan  di  Tifu  mulai  berganti, Henolon  Dahyangen  digantikan  oleh  Henolon  Benja (Humnawan),  pada  Tahun  1850an  Henolon  Benja  diganti  oleh  Henolon  Pede (Humnawan).  Pada  saat  Kepemimpinan  Henolon  Benja  dan Henolon  Pede, Penjajah  Belanda  telah  menguasai   beberapa  Wilayah di  Pulau Buru. Pada Tahun 1870an  Belanda  telah  menguasai  wilayah  Tifu  dan  sekitarnya,  dan Tifupun  dijadikan  sebagai   Bandar  perdagangan,  Gudang  Logistik  dan  pusat  pemerintahan.

Belanda  telah  membentuk  beberapa  wilayah pemerintahan  di  Pulau Buru  yang  diberi  nama  Reghensap,   dan   Tifu  adalah  bagian  dari  Reghensap * Mesa  Mesererette.*

Mesa  Meserette  artinya  Pemerintahan  Besar.

Reghensap Mesa  Meserette pada  saat  itu dipimpin  oleh penjajah  Belanda, Wilayah  Meserette  yaitu  meliputi  Wamsoba  sampai  ke  Fogi  dan  pusat   pemerintahanya  berkedudukan  di Tifu.

Pada Tahun 1879  di Reghensap  Kayeli  terjadilah  babtisan  massal  (pertama)  terhadap   16  Orang  Suku Waekabo  dan marga  lain  yang   datangnya  dari   berbagai   tempat,  ada  yang   dari  Tifu, Mepa  dan   juga  dari  tempat  lain.

Dari  ke enem  belas  orang  tersebut  salah  satunya  adalah  Humite  yang  bernama  Paulus  Behuku  ( Nama  sesudah  dibabtis ). 

Setelah  selesai  Paulus  Behuku  dibaptis  karena  dianggap  pintar  dan  cakap  menurut  pandangan  penjajah  belanda,  maka Paul  Behuku  dikirim  ke  Ambon  dengan  perantaraan  seorang  saudagar  asal  Ambon  yang  bernama  Simon  Yohanes   sekaligus   sebagai   juru   bicara  untuk   menghadap  Residen   RIDHEL. 

Di  Ambon  Paulus  Behuku  dididik dan disekolahkan pada  Zeending  Shcool  hingga  tamat.  Ketika  Paulus Behuku  telah  menamatkan  pendidikannya  Residen  Ridhelpun  berjanji  untuk  mengangkat  Paulus  Behuku  menjadi  Raja  Masarette,  Ini  adalah  strategi  Belanda  agar mereka mudah menguasai dan mendapatkan        apa   yang  mereka  inginkan  di  wilayah   Mesarette.

Pada  tahun  1883  Residen  Ridhel  menepati  janjinya  Ia  mengantar  Paulus  Behuku  bersama  seorang  Missionaris  belanda yang  bernama  Sthep  dengan  menggunakan  kapal  putih  menuju  ke  pulau  Buru, ditengah  pelayaran   antara   Pulau  Ambon  dan  pulau  Ambalau  terjadilah  sebuah  peristiwa  penting  bagi  sejarah  Negeri  tifu, di atas  kapal  putih  tersebut  Paulus  Behuku  ( Humite )  dinobatkan  menjadi  Raja  Mesarette  pertama  oleh  Residen  Ridhel  sekaligus  penyerahan  kepala  rotan  (sebuah  tongkat)  sebagai  lambang  kebesaran  dan  kekuasaan. 

Pada tahun  itu pula Paulus  Behuku  dan  Missionaris  Belanda itu  tiba  di  Desa  Tifu  sebagai   delegasi  Residen  Ridhel  sekaligus  membawa  missi   Injil  untuk  disebarluaskan,  dan   menurut  catatan  sejarah   Gereja   di  tahun   itulah  ( 1883 )  Injil   mulai   diterima  di  wilayah  Mepa,  Tifu dan  sekitarnya  dan  banyak  orang  datang  dari  berbagai  tempat  memberi  diri  untuk  dibaptis  dan  manganut  Agama  Nasrani.  Pada  Tahun  1890an  Henolon   Paul   ( Paulus  Behuku)   digantikan   oleh   anaknya   Jou  Wempi.

Pada  saat  kepemimpinan  Jou  Wempi   hubungannya  dengan  para  pemimpin  gereja  dan  masyarakat  sangat  terjalin  baik, Karena  faktor usia  maka  pada  tahun 1900 Jou  Wempi  digantikan  oleh   anaknya   Raja   Chorneles.

Diselah  pergantian  pemimpin  dari  Jou  wempi  kepada  anaknya  Jou  Corneles  terjadi  sedikit  perselisihan   karena  tidak  ada  persetujuan  bersama  di antara   mata  rumah  waekabo  Tamar  Pa  untuk  mengangkat         Jou  Corneles  menjadi  Raja , sehingga  terjadi  kecemburuan  dari   Mata  Rumah  Humnawan  sebagai  perintis jalan  lalu  dari  mata  rumah  ini  ada  yang  berpindah  tempat  ke  Leksula, dan  sampai  saat  ini  keturunan  keturunan  mereka  masih  tetap  tinggal  disana.

Raja  Chorneles  mempunyai  karakter  yang  jauh  berbeda  dengan  Ayahnya, Pemerintahannya  sangat  keras  dan  banyak  tindakannya  yang  tidak  disukai  oleh  masyarakat  dan  pimpinan  Gereja,  karena  Raja  Chorneles  banyak  melakukan  tindakan  kekerasan  dan  Pelanggaran   (kasus perempuan),  dan  pada  waktu  itu  juga  di Tifu  sedang  dibangun  sebuah  jembatan  tanah  sepanjang 100 meter  yang  dilaksanakan  dengan  sistem    Skojo / Balazten,  atau  penggantian  pembayaran  upeti  kepada  Penjajah   Belanda  dibawah   komando  Tuan  Souhoka, penduduk  Tifu  pada  saat  itu  sungguh  tertekan  sehingga  banyak   yang  hijrah  ke  tempat  lain.

Pada saat pemerintahan Raja Choneles Pusat Pemerintahan Masarette masih  berkedudukan di Tifu, namun  karena letak  geografis  Daerah  Tifu  tidak  layak  untuk  pengembangan  wilayah  maka  pada  tahun  1914   Penjajah  Belanda mengalihkan  semua  kekuasaan  dan  pusat  pemerintahannya  ke Leksula, dua  tahun  kemudian  (1916 )  Rumah  kepala  Pemerintahan  (Bestir  Asisten) di  Tifu  juga  diangkat  ke  Leksula, dan  Rumah  tersebut   pernah  dipergunakan  sebagai  Pendopo  Camat   Leksula  dan   sampai  saat  ini   masih  berdiri  sebagai  bukti  sejarah.   Pada tahun 1935an  karena  krisis  Kepemimpinan  dari  marga  Waekabo  akhirnya  diangkat  seorang  kepala  Kampong  dari  marga  Lesnussa   yang  bernama  Hendrek  Lesnussa  namun  Pemerintahannya  tidak   jelas,  karena  disaat  itu  adalah  masa   masa  pergolakan  memperjuangkan  kemerdekaan  Negara  kita, hingga  

pada  tahun  1952  kepala  Kampong  Hendrek  Lesnussa  digantikan  oleh  Kepala  Soa  dari  marga   behuku,  yang  bernama  Agustinus  Behuku ( Mata  rumah  Denpun).   Kepala  Soa  Agustinus  Behuku  mulai  memimpin  dari  tahun  1952 sampai  pada  tahun  1979.  

Kemudian  Pada   tahun  1980  kepala  Soa  Agustinus  Behuku digantikan  oleh  kepala  kampung  yang  baru  yaitu  Frits  Behuku ( Mata  rumah Humnawan ),  Kepala  kampung  Frits  Behuku  mulai  memimpin  dari  Tahun  1980  sampai  pada   tahun  1991  dan  kepemimpinannya  berakhir   karena   meninngal   dunia.

Pada  saat  pemerintahan  Kepala kampung  Frits Behuku  Kampung Tifu  mengalami  sedikit   Perubahan.  Pada  Tahun 1992  Kepala  kampung  Frits  Behuku  digantikan  oleh  Penjabat   Kepala   kampung   yaitu  Yordan  Solissa 

Pada  Tahun  1992 itu  pula  sesuai  Surat  Keputusan  Menteri  Dalam   Negeri  dan  berdasarkan Undang undang  Nomor : 5 Tahun 1975  maka terjadilah  pengalihan  status  nama  kampung  menjadi  Desa, dan  ini diberlakukan  diseluruh  wilayah  Indoenesia.

Karena  belum  ada  pemilihan  kepala  Desa   maka,  sesuai  SK  Bupati  Maluku  Tengah  Penjabat  Kepala  Desa   Yordan   Solissa  diangkat  menjadi  Kepala  Desa  Difinitif.

Kepala  Desa  Yordan  Solissa  memimpin  sejak   tahun  1995  samapi  pada   tahun   2004, Pada  tahun  2005  berdasarkan  hasil  pemilihan  kepala  Desa  maka, kepala  Desa Yordan  Solissa digantikan  oleh  kepala  Desa  terpilih  yaitu  Wempi   Behuku ( Mata  rumah  Humboti ), Kepala  Desa  Wempi  Behuku  dilantik  pada  bulan  Mei  tahun  2005  dan  akhir  masa  jabatannya pada  tahun   2011,  pada  masa  pemerintahannya  Desa  Tifu  cukup  mengalami  perubahan.   Pada  tahun  2012  berdasarkan  hasil  pemilihan  kepala Desa , maka  Kepala  Desa  Wempi  Behuku  digantikan  oleh  Kepala  Desa  terpilih  Hengky  Behuku  ( Mata  rumah  Humnawan ).

Kepala  Desa  Hengky  Behuku  dilantik  pada  bulan  Mei  2012, namun  belum  sampai  pada  akhir   masa  Jabatannya  beliau  telah  dipanggil  pulang  oleh   Yang  Maha  Kuasa.  Almarhum  Kepala  Desa  Hengky  Behuku meninggal  pada  tanggal  21  Mei  2014  dan  pada  saat  upacara  pelepasan  (pemakaman Almarhum  secara  Dinas)  Camat  Leksula  atas  nama  Bupati  Buru  Selatan  mengangkat  Sekretaris  Desa  Engelbert  Lesnussa  sebagai   Pelaksana  Tugas  sementara.

Pada  tanggal  15  Desember  2014  sesuai  SK Penunjukan  Bupati  Buru  Selatan  maka  Camat  Leksula  atas  nama  Bupati  Buru  Selatan melantik  Kepala  Seksi  Kemasyarakatan  Joel  Leskona  sebagai  Penjabat  Kepala  Desa  Tifu, kemudian  Pada tanggal  07  Desember  2016  sesuai  hasil  pemilihan  Kepala  Desa  maka,  pada  tanggal 30 Januari 2017  Bupati  Buru  Selatan  melantik  Kepala  Desa  terpilih  Saudara  Markus  Behuku  ( dari  Mata  rumah  Humite )  menggantikan  Penjabat  Kepala  Desa  Joel  Leskona.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pelabuhan Tifu jaman Belanda