Senin, 25 Oktober 2021
Sejarah Desa Tifu
SEJARAH DESA TIFU DAN PEMERINTAHANNYA
Desa Tifu merupakan salah satu Desa Adat tertua di Kecamatan Leksula Kabupaten Buru Selatan, Desa Tifu disebut Desa Adat karena didirikan berdasarkan ikatan sumpah dan janji para leluhur. Desa kecil ini berada di pesisir pantai selatan pulau Buru dan letaknya dalam sebuah teluk yang tenang, dengan panorama alamnya yang indah sehingga berpotensi untuk dijadikan objek Wisata Alam. Asal mula berdirinya Desa Tifu adalah dari empat orang kakak beradik Suku Waekabo atau dalam bahasa Daerah Buru disebut WAEKABO TAMAR PA yaitu Humnawan, Humite, Humboti dan Denpun, itulah empat mata rumah Marga Behuku, keempat mata rumah ini adalah pancaran dari keturunan Soleman Ternate. Ke empat orang kakak beradik ini ketika meninggalkan tempat asal mereka ( Kepala air waekabo) dilepaskan oleh Ibu mereka Ina Barakate hanya dengan berbekal tombak parang dan wasiat, Ina Barakate dengan ikhlas melepaskan keempat anaknya dengan harapan agar mereka dapat menentukan tujuan hidup masing - masing dan meneruskan keturunannya.
Berhari hari keempat kakak beradik ini berjalan sambil berburu , dengan arah tujuan yang tidak jelas hingga tibalah mereka di sebuah gunung (Gunung Karemat) yang letaknya diatas teluk Kayeli (Buru utara Timur), di gunung itu meraka tinggal bersama beberapa suku asli lainnya, diantaranya Suku Wael, Suku Besan, Suku Baman, Suku Waelua, Latubual dan lain lain. Ketika mereka tinggal beberapa lama disitu terjadilah perebutan kekuasaan diantara mereka, masing masing Kepala suku mempertahankan kehebatan dan jati dirinya sebagai kapitan, sehingga sering terjadi pertengkaran pertengkan kecil yang disebabkan karena ingin berkuasa. Akhirnya mereka berunding dan membuat kesepakatan bersama, kira kira siapakah diantara para kepala suku ini yang berhak untuk memimpin dan menguasai daerah itu, setelah selesai berunding merekapun sepakat seperti membuat sebuah Sayembara untuk menguji ilmu dan kesaktian dari kepala suku masing masing, syaratnya adalah jika Kepala Suku mana di antara mereka yang mampu melemparkan tombaknya dari atas puncak gunung karemat itu sampai ke teluk kayeli, maka suku dialah yang berhak menguasai semua suku dan Wilayah itu. Pada saat waktu yang telah ditetukan uji kesaktianpun dilaksanakan , ternyata dalam uji kesaktian itu suku waekabo dan beberapa suku lainya tidak berhasil melempar tombaknya sampai ke teluk kayeli, dan disinilah terjadi perang antar suku, sehingga salah seorang kapitan dari suku Waekabo gugur dalam pertempuran itu namun ia tidak sampai meninggal ( Karena Ia berpura - pura mati ) lalu kapitan Waekabo ditutup dengan daun kelapa oleh Kapitan lainya. Karena merasa mereka kalah dalam uji kesaktian, akhirnya Suku Waekabo ini berpindah tempat lagi ke arah barat lalu mereka menetap disebuah tempat, namun tempat itu sampai saat ini tidak disebut namanya, karena tempat itu dirasakan tidak nyaman untuk mereka, akhirnya merekapun bepindah tempat lagi. Beberapa hari mereka meneruskan perjalanan hingga tibalah mereka disebuah bukit kecil , Bukit kecil itu letaknya kurang lebih 4 Km arah utara Desa Tifu , karena kacapean lantaran berhari - hari berjalan sehingga merekapun sepakat untuk beristirahat, mereka membuat pondok dari daun - daun dan beristirahat untuk beberapa hari di situ, mungkin karena di tempat itu banyak binatang buruan seperti babi , rusa dan lain lain sehingga merekapun betah untuk tinggal ditempat itu. Dan menurut ceritera, ketika para leluhur ini tinggal disitu mereka juga mempunyai seorang saudara perempuan yang sungguh cantik ia sering datang mengunjungi mereka, namun biasanya ia datang pada malam hari. Pada suatu waktu, ketika angin bertiup kencang di atas bukit kecil itu sehingga pohon pohon berayun ayun dengan kerasnya, dari celah celah pepohonan itu salah seorang dari mereka menangkap suatu pemandangan indah di arah matahari terbenam, di situ Ia melihat ada satu kolam dengan airnya yang cukup luas menurut pengamatannya lalu Ia menunjukan kepada saudaranya yang lain sambil berkata dalam bahasa daerah Buru ” Touk nang Tifun sa pao, ”yang artinya lihat kolam saya di bawah, dan sejak saat itu mereka menamai bukit yang mereka tempati itu touk Tifun.
Lalu merekapun berinisiatif untuk turun melihatnya lebih dekat , dan mereka sepakat untuk turun bersama sama yang dipimpin oleh Humnawan sebagai perintis jalan sekaligus orang pertama yang melihat kolam itu, ketika mereka sampai di tempat itu mereka sungguh terkejut karena ternyata apa yang dilihat dari bukit itu bukannya sebuah kolam malainkan sebuah teluk yang tenang dengan pintu masuknya yang indah namun disekitar daerah itu tidak terdapat sumber air tawar yang bisa diminum. Disinilah sebuah keajaiban terjadi, karena tidak ada Air tawar untuk diminum akhirnya Humnawan sebagai perintis jalan memohon kepada sang pencipta untuk mendapatkan air, Beliaupun menikam tongkatnya ditanah lalu duduk di atas sebuah batu sambil bermohon, dan ketika selesai memohon Beliau mencabut tongkatnya dan muncul lah sebuah mata Air sebesar jari tangan, lalu mata air itu diberkati oleh Humite dan merekapun meminum air itu. Humite berjanji di mata air itu bahwa Ia akan selalu menjaganya, hingga sampai hari ini sumber air itu masih tetap hidup dan dipergunakan untuk kebutuhan sehari hari masyarakat. Mereka inilah orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di teluk Tifu dan menguasai daerah itu kira kira pada tahun 1786 mereka sungguh tertarik dengan suasana alamnya, namun mereka belum membuat rumah untuk tempat tinggal, dari waekabo bersaudara ini nama yang lebih dikenal adalah Kapitan BAIKOLE. Waekabo bersaudara itu berpancar lagi, tetapi dengan satu perjanjian bahwa mereka akan kembali ke tempat itu untuk menetap.
Berpuluh puluh tahun mereka berpisah, dan Kira kira pada Tahun 1810an keturunan merekapun mulai berdatangan satu demi satu dengan keluarga masing masing untuk tinggal disitu, namun tempat itu belum berbentuk seperti layaknya sebuah pemukiman penduduk karena masih ditutupi oleh pohon pohon kayu besar dan terkesan seperti rimbah. Kira kira pada tahun 1814 merekapun menempati tempat itu, karena dilihat bahwa daerah tifu ini masih luas dan hanya didiami oleh beberapa keluarga, akhirnya Waekabo bersaudara ini memanggil marga marga lain dari Pegunungan untuk turun ke pantai dan tinggal bersama sama dengan mereka, yang antara lain, Bangsa Maktita dan Mual , mereka juga diberikan hak tanah untuk membuat rumah dan berkebun sehingga telah terjadi kawin mawin di antara mereka. Berdasarkan ikatan kekerabatan Ina , Ama, Kai Wait ( hidup orang Keluarga ) ada seorang leluhur bernama KUBENA yang bermarga Solissa, Dialah orang pertama yang mulai merambah hutan didaerah itu untuk dijadikan pemukiman.
Pada Tahun 1816 Negeri Tifu secara resmi mulai diakui , Kata Tifu berasal dari kata Touk Tifun ( Bukit kecil yang mereka diami sebelum mereka temukan teluk Tifu ). Orang pertama yang menjadi pimpinan pada saat itu ialah HENOLON DAHYANGEN, ( Humnawan ) Pada saat kepemimpinan Henolon Dahyangen penduduk di Negeri Tifu belum mengenal agama, mereka masih memegang adat istiadat dan janji leluhurnya sebagai pegangan hidup. Kira kira pada tahun 1830an Kepemimpinan di Tifu mulai berganti, Henolon Dahyangen digantikan oleh Henolon Benja (Humnawan), pada Tahun 1850an Henolon Benja diganti oleh Henolon Pede (Humnawan). Pada saat Kepemimpinan Henolon Benja dan Henolon Pede, Penjajah Belanda telah menguasai beberapa Wilayah di Pulau Buru. Pada Tahun 1870an Belanda telah menguasai wilayah Tifu dan sekitarnya, dan Tifupun dijadikan sebagai Bandar perdagangan, Gudang Logistik dan pusat pemerintahan.
Belanda telah membentuk beberapa wilayah pemerintahan di Pulau Buru yang diberi nama Reghensap, dan Tifu adalah bagian dari Reghensap * Mesa Mesererette.*
Mesa Meserette artinya Pemerintahan Besar.
Reghensap Mesa Meserette pada saat itu dipimpin oleh penjajah Belanda, Wilayah Meserette yaitu meliputi Wamsoba sampai ke Fogi dan pusat pemerintahanya berkedudukan di Tifu.
Pada Tahun 1879 di Reghensap Kayeli terjadilah babtisan massal (pertama) terhadap 16 Orang Suku Waekabo dan marga lain yang datangnya dari berbagai tempat, ada yang dari Tifu, Mepa dan juga dari tempat lain.
Dari ke enem belas orang tersebut salah satunya adalah Humite yang bernama Paulus Behuku ( Nama sesudah dibabtis ).
Setelah selesai Paulus Behuku dibaptis karena dianggap pintar dan cakap menurut pandangan penjajah belanda, maka Paul Behuku dikirim ke Ambon dengan perantaraan seorang saudagar asal Ambon yang bernama Simon Yohanes sekaligus sebagai juru bicara untuk menghadap Residen RIDHEL.
Di Ambon Paulus Behuku dididik dan disekolahkan pada Zeending Shcool hingga tamat. Ketika Paulus Behuku telah menamatkan pendidikannya Residen Ridhelpun berjanji untuk mengangkat Paulus Behuku menjadi Raja Masarette, Ini adalah strategi Belanda agar mereka mudah menguasai dan mendapatkan apa yang mereka inginkan di wilayah Mesarette.
Pada tahun 1883 Residen Ridhel menepati janjinya Ia mengantar Paulus Behuku bersama seorang Missionaris belanda yang bernama Sthep dengan menggunakan kapal putih menuju ke pulau Buru, ditengah pelayaran antara Pulau Ambon dan pulau Ambalau terjadilah sebuah peristiwa penting bagi sejarah Negeri tifu, di atas kapal putih tersebut Paulus Behuku ( Humite ) dinobatkan menjadi Raja Mesarette pertama oleh Residen Ridhel sekaligus penyerahan kepala rotan (sebuah tongkat) sebagai lambang kebesaran dan kekuasaan.
Pada tahun itu pula Paulus Behuku dan Missionaris Belanda itu tiba di Desa Tifu sebagai delegasi Residen Ridhel sekaligus membawa missi Injil untuk disebarluaskan, dan menurut catatan sejarah Gereja di tahun itulah ( 1883 ) Injil mulai diterima di wilayah Mepa, Tifu dan sekitarnya dan banyak orang datang dari berbagai tempat memberi diri untuk dibaptis dan manganut Agama Nasrani. Pada Tahun 1890an Henolon Paul ( Paulus Behuku) digantikan oleh anaknya Jou Wempi. .
Pada saat kepemimpinan Jou Wempi hubungannya dengan para pemimpin gereja dan masyarakat sangat terjalin baik, Karena faktor usia maka pada tahun 1900 Jou Wempi digantikan oleh anaknya Raja Chorneles.
Diselah pergantian pemimpin dari Jou wempi kepada anaknya Jou Corneles terjadi sedikit perselisihan karena tidak ada persetujuan bersama di antara mata rumah waekabo Tamar Pa untuk mengangkat Jou Corneles menjadi Raja , sehingga terjadi kecemburuan dari Mata Rumah Humnawan sebagai perintis jalan lalu dari mata rumah ini ada yang berpindah tempat ke Leksula, dan sampai saat ini keturunan keturunan mereka masih tetap tinggal disana.
Raja Chorneles mempunyai karakter yang jauh berbeda dengan Ayahnya, Pemerintahannya sangat keras dan banyak tindakannya yang tidak disukai oleh masyarakat dan pimpinan Gereja, karena Raja Chorneles banyak melakukan tindakan kekerasan dan Pelanggaran (kasus perempuan), dan pada waktu itu juga di Tifu sedang dibangun sebuah jembatan tanah sepanjang 100 meter yang dilaksanakan dengan sistem Skojo / Balazten, atau penggantian pembayaran upeti kepada Penjajah Belanda dibawah komando Tuan Souhoka, penduduk Tifu pada saat itu sungguh tertekan sehingga banyak yang hijrah ke tempat lain.
Pada saat pemerintahan Raja Choneles Pusat Pemerintahan Masarette masih berkedudukan di Tifu, namun karena letak geografis Daerah Tifu tidak layak untuk pengembangan wilayah maka pada tahun 1914 Penjajah Belanda mengalihkan semua kekuasaan dan pusat pemerintahannya ke Leksula, dua tahun kemudian (1916 ) Rumah kepala Pemerintahan (Bestir Asisten) di Tifu juga diangkat ke Leksula, dan Rumah tersebut pernah dipergunakan sebagai Pendopo Camat Leksula dan sampai saat ini masih berdiri sebagai bukti sejarah. Pada tahun 1935an karena krisis Kepemimpinan dari marga Waekabo akhirnya diangkat seorang kepala Kampong dari marga Lesnussa yang bernama Hendrek Lesnussa namun Pemerintahannya tidak jelas, karena disaat itu adalah masa masa pergolakan memperjuangkan kemerdekaan Negara kita, hingga
pada tahun 1952 kepala Kampong Hendrek Lesnussa digantikan oleh Kepala Soa dari marga behuku, yang bernama Agustinus Behuku ( Mata rumah Denpun). Kepala Soa Agustinus Behuku mulai memimpin dari tahun 1952 sampai pada tahun 1979.
Kemudian Pada tahun 1980 kepala Soa Agustinus Behuku digantikan oleh kepala kampung yang baru yaitu Frits Behuku ( Mata rumah Humnawan ), Kepala kampung Frits Behuku mulai memimpin dari Tahun 1980 sampai pada tahun 1991 dan kepemimpinannya berakhir karena meninngal dunia.
Pada saat pemerintahan Kepala kampung Frits Behuku Kampung Tifu mengalami sedikit Perubahan. Pada Tahun 1992 Kepala kampung Frits Behuku digantikan oleh Penjabat Kepala kampung yaitu Yordan Solissa
Pada Tahun 1992 itu pula sesuai Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri dan berdasarkan Undang undang Nomor : 5 Tahun 1975 maka terjadilah pengalihan status nama kampung menjadi Desa, dan ini diberlakukan diseluruh wilayah Indoenesia.
Karena belum ada pemilihan kepala Desa maka, sesuai SK Bupati Maluku Tengah Penjabat Kepala Desa Yordan Solissa diangkat menjadi Kepala Desa Difinitif.
Kepala Desa Yordan Solissa memimpin sejak tahun 1995 samapi pada tahun 2004, Pada tahun 2005 berdasarkan hasil pemilihan kepala Desa maka, kepala Desa Yordan Solissa digantikan oleh kepala Desa terpilih yaitu Wempi Behuku ( Mata rumah Humboti ), Kepala Desa Wempi Behuku dilantik pada bulan Mei tahun 2005 dan akhir masa jabatannya pada tahun 2011, pada masa pemerintahannya Desa Tifu cukup mengalami perubahan. Pada tahun 2012 berdasarkan hasil pemilihan kepala Desa , maka Kepala Desa Wempi Behuku digantikan oleh Kepala Desa terpilih Hengky Behuku ( Mata rumah Humnawan ).
Kepala Desa Hengky Behuku dilantik pada bulan Mei 2012, namun belum sampai pada akhir masa Jabatannya beliau telah dipanggil pulang oleh Yang Maha Kuasa. Almarhum Kepala Desa Hengky Behuku meninggal pada tanggal 21 Mei 2014 dan pada saat upacara pelepasan (pemakaman Almarhum secara Dinas) Camat Leksula atas nama Bupati Buru Selatan mengangkat Sekretaris Desa Engelbert Lesnussa sebagai Pelaksana Tugas sementara.
Pada tanggal 15 Desember 2014 sesuai SK Penunjukan Bupati Buru Selatan maka Camat Leksula atas nama Bupati Buru Selatan melantik Kepala Seksi Kemasyarakatan Joel Leskona sebagai Penjabat Kepala Desa Tifu, kemudian Pada tanggal 07 Desember 2016 sesuai hasil pemilihan Kepala Desa maka, pada tanggal 30 Januari 2017 Bupati Buru Selatan melantik Kepala Desa terpilih Saudara Markus Behuku ( dari Mata rumah Humite ) menggantikan Penjabat Kepala Desa Joel Leskona.
Sabtu, 23 Oktober 2021
SELAYANG PANDANG PEMERINTAHAN ADAT DI DESA TIFU KECAMATAN LEKSULA
SELAYANG PANDANG PEMERINTAHAN ADAT DI DESA TIFU KECAMATAN LEKSULA
Desa Tifu merupakan salah satu desa adat tertua di pulau buru yang terletak dalam sebuah teluk,.. Yang lebih dikenal dengan sebutan Teluk Tenang... Orang orang pertama yang menginjakkan kaki di teluk ini adalah Bangsa Waekabo Tamar Pa.
Negeri Tifu terbentuk berdasarkan ikatan kekerabatan Ina Ama Kai Wait dalam tatanan hidup orang Basudara... Negeri ini pada awalnya masih terkesan hutan namun ketangguhan seorang leluhur yang bernama Kubena maka terciptalah sebuah permukiman penduduk, sebab KUBENA lah orang pertama yang merambah hutan, mencangkul tanah putih dan meratakannya menjadi jalan dan tempat rumah.
Negeri Tifu didiami kira-kira pada tahun 1816 menurut cerita para orang tua, dan orang pertama yang menjadi pemimpin pada saat itu adalah Henolon Dahyagen.
Pada saat menjadi kepemimpinan Henolon Dahyagen penduduk Negeri Tifu belum mengenal Agama, mereka masih memegang teguh adat istiadat dan wasiat leluhurnya sebagai pegangan hidup.
Kira-kira pada tahun 1840an Henolon Dahyagen digantikan oleh Henolon Benja, kemudian pada tahun 1860an Henolon Benja digantikan oleh Henolon Pede.
Pada saat kepemerintahan Henolon Benja dan Henolon Pede penjajah Belanda telah menguasai Pulau Buru, dan Pulau Buru dibagi menjadi 7 Wilayah Pemerintahan atau Reghenzap.
Kemudian pada Tahun 1879 di Reghenzap Kayeli ketika itu akan di lakukan Baptisan massal terhadap orang orang yang belum mengenal Agama, maka ada 16 orang dari negeri Tifu, Mepa dan sekitarnya dikirim ke sana untuk di Baptis. Dari 16 orang yang mengikuti a Baptisan itu Belanda telah menggantikan nama nama mereka dari nama sebelumnya kepada nama Baptis, yang salah satunya adalah PAULUS Behuku dari mata Rumah Behuku Kawalale. Paulus Behuku atau lebih terkenal dengan nama Jou Paul karena di anggap pintar dan cakap menurut Penjajah Belanda maka beliau dikirim ke Ambon dengan perantaraan 2 orang saudagar asal Ambon sebagai juru bicara untuk menghadap Residen RIDHELS. Di Ambon Paul Behuku di didik dan disekolahkan pada zending School hingga tamat. Pada Tahun 1883 Residen RIDHELS menghantarkan Paul Behuku bersama satu orang Misionaris Belanda menuju ke Pulau Buru dengan menggunakan Kapal Putih, Misionaris ini ditunjukkan sebagai delegasi untuk tugas pengabaran Injil di Buru Selatan.
Di tengah pelayaran antara pulau Ambon dan pulau Ambalau terjadilah peristiwa penting bagi sejarah pemerintahan di Negeri Tifu, karena dalam Kapal Putih tersebut Residen RIDHELS menobatkan Paul Behuku menjadi Raja Messe Mesarette pertama, sekaligus menyerahkan sebuah Kepala rotan sebagai lambang kebesaran dan kekuasaan. Pada tahun tahun itu pula Belanda menjadikan Negeri Tifu sebagai Bendar Perdagangan, Gudang logistik Barter dan Pusat Pemerintahan Reghenzap Mesarette, yang di pimpin oleh JOU PAUL BEHUKU. Pada Tahun 1890an Jou Paul Behuku digantikan oleh JOU WEMPI dari mata rumah Behuku Humite, kemudian pada Tahun Seribu sembilan ratusan Jou Wempi digantikan oleh Anaknya Tuan Corneles Behuku, pada saat penobatan Tuan Cor menjadi Raja Mesarette terjadi sedikit konflik di dalam keluarga Waekabo Tamar Pa, karena dari mata Humnawan tidak merestui jika Tuan Cor dinobatkan menjadi Raja, sehingga ada beberapa keluarga yang akhirnya hijrah ke Leksula dan menetap di sana dan keturunannya masih ada sampai saat ini yang adalah bagian dari keluarga besar Negeri Tifu. Pada saat Pemerintahan RAJA COR Pusat Pemerintahan Reghenzap Mesarette masih berkedudukan di Negeri Tifu, namun karena letak geografis yang tidak mendukung untuk pengembangan wilayah kedepan maka pada Tahun 1914 Penjajah Belanda mengalihkan semua kekuasaan dan pusat pemerintahannya ke Leksula.
Dua tahun kemudian yaitu pada tahun 1916 Rumah Kepala Pemerintahan atau Bestir Assisten di Tifu dibongkar dan dipindahkan ke Leksula, dan rumah itu pernah dijadikan sebagai Pandopo Camat Buru Selatan yang sampai sekarang ini masih berdiri kokoh sebagai bukti sejarah. Pada tahun 1935 karena krisis Kepemimpinan dari marga Waekabo Tamar Pa maka di angkatlah Hendrek Lesnussa menjadi Kepala Kampung.
Kemudian pada tahun 1952 Kepala Kampung HENDREK LESNUSSA digantikan oleh Kepala Soa Behuku yaitu AGUSTINUS BEHUKU dari mata rumah Behuku Denpun. Kepala Soa Agustinus Behuku mulai memimpin dari tahun 1952 sampai pada tahun 1979, pada tahun 1980 dilaksanakanlah pemilihan kepala kampung, dan terpilihlah kepala kampung Tifu yang baru yaitu FRITS BEHUKU dari mata rumah Behuku Humnawan. Kepala Kampung Frits Behuku memimpin dari Tahun 1980 sampai pada tahun 1991 dan Pemerintahannya berakhir karena meninggal dunia.
Pada Tahun 1992 Almarhum Kepala Kampung Frits Behuku digantikan oleh Sekretaris Desa YORDAN SOLISSA sebagai Penjabat, dan pada tahun itu pula sesuai Keputusan Menteri Dalam Negeri maka diberlakukannya Undang Undang Nomor 5 Tahun 1975 tentang pengalihan status nama kampung menjadi desa dan ini diberlakukan di seluruh wilayah Indonesia. Karena belum ada pemilihan kepala Desa dan untuk menutupi kekosongan maka pada tahun 1995 Bupati Maluku Tengah Aman Karyaman menerbitkan Surat Keputusan pengangkatan Penjabat Kepala Desa YORDAN SOLISSA menjadi kepala desa Difinifit.
Kepala Desa Yordan Solissa memimpin dari tahun 1995 sampai 2004. Pada Tahun 2005 berdasarkan hasil Pemilihan Kepala Desa maka, Kepala Desa Yordan Solissa digantikan oleh Kepala Desa Terpilih WEMPI BEHUKU dari mata rumah Behuku Humboti. Kepala Desa Wempi Behuku di lantik pada bulan Mei Tahun 2005 dan memimpin sampai pada akhir masa jabatannya bulan Mei 2011.
Pada tahun 2012 berdasarkan hasil Pemilihan Kepala Desa maka Kepala Desa Wempi Behuku digantikan oleh Kepala Desa Terpilih HENGKY BEHUKU dari mata rumah Behuku Humnawan, Kepala Desa Hengky Behuku dikukuhkan dalam Upacara Adat pada tanggal 14 Mei Tahun 2012 namun belum sampai pada akhir masa jabatannya Beliau telah dipanggil pulang oleh Yang Maha Kuasa, Almarhum Kepala Desa Hengky Behuku meninggal pada tanggal 21 Mei Tahun 2014, dan pada saat Acara Pemakaman Almarhum secara Dinas Camat Leksula atas nama Bupati Buru Selatan mengangkat Sekretaris Desa ENGELBERT LESNUSSA sebagai Pelaksana Tugas Sementara, Kemudian pada tanggal 15 Desember Tahun 2014 sesuai SK penunjukan maka Camat Leksula atas nama BUPATI Buru Selatan melantik Kepala Seksi JOEL LESKONA sebagai Penjabat Kepala Desa.
Kemudian pada tanggal 07 Desember Tahun 2016 sesuai hasil Pemilihan Kepala Desa maka, pada tanggal 30 Januari Tahun 2017 Bupati Buru Selatan melantik Kepala Desa Terpilih MARKUS BEHUKU dari mata rumah Behuku Hummite menggantikan Penjabat Kepala Desa Joel Leskona.
Kepala Desa MARKUS BEHUKU dikukuhkan dalam Upacara Adat pada tanggal 16 Maret Tahun 2017 dan akhir masa jabatannya pada bulan Januari Tahun 2022.
Dan pada hari ini......... Tahun 2016 kita telah menyaksikan secara bersama pengukuhan dalam Upacara Adat Kepala Desa Tifu terpilih........ dengan demikian tercatatlah satu sejarah baru bagi Pemerintahan Adat di Desa Tifu..
-
SEJARAH DESA TIFU DAN PEMERINTAHANNYA Desa Tifu merupakan salah satu Desa Adat tertua di Kecamatan Leksula Kabupaten Buru...
-
SELAYANG PANDANG PEMERINTAHAN ADAT DI DESA TIFU KECAMATAN LEKSULA Desa Tifu merupakan salah satu desa adat tertua di pulau buru ya...